![]() |
DETAIL
BUKU Perempuan Berkalung Sorban
Penulis : Abidah El Khalieqy
SINOPSIS Novel ini mengisahkan tokoh Annisa. Ia lahir di keluarga pesantren. Ayahnya seorang kiai. Dua saudaranya laki-laki. Di rumah, Annisa mendapatkan perlakuan diskriminatif terkait posisinya sebagai perempuan. Tak boleh belajar hingga ke perguruan tinggi, tak boleh belajar naik kuda, meski ia sangat menyukainya. Tugasnya memasak. Dua saudara memperoleh kebebasan lebih, hanya karena dia laki-laki. Sebagaimana kehidupan di pesantren, Annisa wajib mengaji kitab. Sayang, dalam proses belajar ia sering mendapati penafsiran para kiai dinilai yang biasa gender. Tak menguntungkan posisi perempuan. Misalnya, istri harus selalu melayani kebutuhan biologis suami. Kalau menolak, istri akan dikutuk malaikat. Annisa protes. Namun, ia tidak mendapatkan jawaban memuaskan. Dalam umur relatif muda, Annisa dipaksa nikah dengan Samsudin. Anak seorang kiai ternama kawan ayahnya. Annisa baru mengenal lelaki itu satu jam sebelum ijab kabul. Ia lelaki poligam. Selama menjadi istri Samsudin, ia tak pernah merasakan kebahagiaan. Apalagi cinta dan kasih sayang. Ia diperlakukan tak lebih dari wanita pemuas nafsu. Sejak kecil, Annisa mengagumi Khudhori, lelaki yang selama ini sudah dianggap keluarga. Ia memanggilnya Lek Khudori. Khudhori menjadi ”pembela” Annisa di keluarga. Khudhori pula yang mengajari Annisa naik kuda, secara sembunyi-bunyi. Ia lelaki yang berpengetahuan luas. Menguasai kitab kuning, berpikir moderat dan rasional. Ia selalu menafsirkan agama dari sudut pandang substansi. Bukan formalisme agama.
Kepada Khudhori semua bentuk pergolakan Annisa memperoleh jawaban cerdas. Hubungan dekat Annisa-Khudhori harus berpisah. Khudhori melanjutkan studi ke Berlin Jerman. Selama ia di luar negeri, Annisa terus berada di cengkeraman Samsudin. Kebahagiaan Annisa memuncak setelah ia bercerai dan menikah dengan Khudhori. Dari alur cerita, tak ada yang istimewa. Tak beda dengan cerita-cerita di sinetron TV. Seorang anak lahir di keluarga ”agamis”, dikekang, dipaksa nikah, tidak bahagia, cerai, nikah lagi dengan lelaki pujaan, melahirkan, meraih puncak kebagiaan, suami kecelakaan dan meninggal. Penulisnya ”tak kreatif” dalam menyusun alur cerita. Kekuatan novel ini justru pada dialog-dialognya, khususnya antara Annisa-Khudhori. Banyak cakrawala baru yang bisa kita peroleh. Wacana yang membongkar sorban tradisi pesantren dalam memandang wanita. Pendekatan-pendekatan fikih klasik didekonstruksi sedemikan rupa. Menawarkan paradigma baru yang lebih substansial guna melihat posisi perempuan dalam ranah domistik maupun publik berdasarkan prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan. Melalui karya ini menunjukkan komitmen kuat penulisnya, Abidah El Khalieqy, dalam membela kaumnya yang ditindas kultur pesantren yang ”kolot”. Sayangnya, Abidah terlalu bersemangat melukiskan adegan percintaan Annisa-Khudhori. Ibarat masakan, adegan percintaan adalah bumbu. Jika bumbu over dosis, justru membuat masakan tak karuan rasanya. Ini yang melemahkan novel ini. Ketidakcermatan editor dalam mengedit tulisan menjadi kerikil yang sangat mengganggu. Kesalahan kecil, salah ketik, jika terus berulang bisa berubah kesalahan besar. Patut disayangkan hal ini terjadi. Kesalahan ini bisa dihindari jika editor lebih teliti. Novel yang kini difilmkan ini tetap layak untuk dibaca, terutama bagi mereka yang merindukan kemerdekaan. Perempuan-perempuan yang masih bingung oleh konstruksi (tafsir) agama yang menindas mereka.
| |







